Taisen gueDi lagu item manis, ada kata-kata "biar begitu taisen gue"
Kata taisen, yang kemudian di kalangan muda-mudi artinya menjadi pacar, berasal dari judi hwahwe yang marak di Jakarta akhir 1960-an dan awal 1970-an.
Judi itu menjanjikan 36 angka keberuntungan dengan simbol binatang pada setiap angkanya. Angka 1 (ikan bandeng), misalnya, taisen-nya angka 5 (singa), angka 30 (monyet) taisen-nya angka 23 (ikan mas koki), dan seterusnya. "Kalau adek jadi ikan mas koki, abang yang jadi taisennya... monyet dong," kata Benyamin dalam salah satu lirik lagunya.
Kamus kecil2an bhs Betawi
Lampiran bahasa jakarta(betawi)
abong-abong=mentang-mentang
aje=saja
ama=dengan
babe= bapak
bangke= bangkai
bangkotan= tua bangka
beko= permen
belon= belum
bener= benar
bini= istri
ceban= sepuluh ribu
cepe= seratus
die= dia
elu= kamu, anda
encang= paman
engkong= kakek
enyak= ibu
gotun= lima perak
goban= lima puluh ribu
gocap= lima puluh
goceng= lima ribu
gope= lima ratus
gue= saya, aku
jigo= dua lima
kagak= nggak, tidak
kate= kata
laki= suami, lelaki
lu= kamu
maen= bermain
malem= malam
mpok= mbak
musti= harus
naek = naik
nangke= lande cempedak
noceng= dua ribu
seceng= seribu
sono= sana, di sana
udeh= sudah
Tambahin di kome deh kalo ada yg aneh aneh heheJakarta 478 Tahun
Sebelumnya ane minta ma'af karena telat ngucapin met ultah buat djakarta! Kali ini cuma mau ceritain kegiatan perayaan ultah kota jakarta tercinta ini di daerah Jeruk Purut, tempat saya (yg nulis) tinggal sekarang. Acara nya sendiri meriah, ada bazaar, panggung musik, biar kecil-kecilan di jalanan, tapi tetep meriah apalagi hujan yg biasanya turun, gak ada setitik pun.Jadinya acara di hari minggu itu lancar, mulai pagi sampai malam. Nah seperti biasanya, di acara musik, beberapa peserta bawain lagunya bang ben!, yah siapa lagi? Memang Bang ben udah seperti icon betawi aja ya. Malah ada yg bawain lagu bang ben semua muanya. Lagu-lagu yang dibawain kebanyakan lagu-lagu pop/rock, maklum yg ngeband anak2 muda. lagu-lagunya antara lain Kompor mleduk, Juki. dan Gerimis. Dan penonton pun ikutan nyanyi dan menyahuti setiap vokalis nya berdialog. Mereka rata-rata hapal lagu-lagunya, dan yg nonton pun dari berbagai usia dari anak abg sampai ibu-ibu. Yah itu sekelumit cerita dari perayaan ultah jakarta ditempat sahaya
wawancara Garin (petikan)
Petikan wawancara dg Garin - Kultur Politik Tak Mendukung Renaisans (tiras)Diambil hanya bagian akhir saja....
Ada kritik bahwa stasiun televisi juga dianggap tidak lagi mem-peduli-kan kondisi masyarakat?
Benar, memang mereka tidak perduli. Seperti yang saya katakan, waktu yang begitu cepat, karena tekanan investasi membikin mereka tidak terlalu perduli dengan ekologi tontonan. Kalau saya menonton komedi yang baik, unsur drama yang baik. Jadi, kalau anak saya menonton akan merekam, sehingga tatkala dia memproduksi pada waktu dewasa, dia tahu yang baik. Sekarang tidak terjadi seperti itu. Padahal, suatu industri yang baik kalau penonton juga tumbuh sehat. Jadi, penonton itu mengerti sesuatu yang bagus, karena memiliki elemen-elemen yang bisa dipe-gang. Dan, kita tidak punya daya evaluasi untuk itu.
Tapi, kan kita sudah bisa menunjukkan kualitas produk, misalkan lewat Si Doel Anak Sekolahan?
Si Doel Anak Sekolahan merupakan contoh industri yang sangat tepat. Sebab, dia melahirkan unsur-unsur relaksisasi manusia. Ada indentifikasi, rasa humor, ada rasa kesejukan (cinta, persahabatan).Ada tokoh modern, orang desa, lengkap, mengandung berbagai aspek. Simpel, sederhana, tapi mengandung aspek hiburan itu.
Artinya, kita belum memiliki industri hiburan yang baik?
Kita sejauh ini sulit mengetahui mengapa Si Doel berhasil. Tapi, setidaknya kita memiliki indentifikasi komunal. Rano Karno merupakan indentifikasi komunal yang sejarahnya sangat panjang. Saya anak-anak, indentifikasi saya Rano, remaja juga Rano, tua masih juga Rano. Jadi ada sebuah sejarah panjang kebintangan komunal bersama. Dan, dia diletakkan dalam posisi yang tepat. Ia berada pada posisi pencari pekerjaan, posisi transformasi. Rano memiliki kepandaian memilih casting. Sutradara yang pernah mengikuti sutradara besar. Ia memiliki insting casting yang tepat.
Apakah Anda yakin Si Doel akan sukses lagi?
Saya katakan, Rano jangan dibebani itu. Itu tidak sehat.
Keberhasilannya, apakah tidak terletak pada daya pikat Benyamin. Artinya, fans yang dimiliki Benyamin-lah yang menyumbang keberhasilan Si Doel?
Justru itu keberhasilan Rano. Ia meletakkan casting secara tepat.Benyamin memberikan warna lokal yang tidak bisa digantikan siapa pun juga. Kelokalan itu, menjadi kerinduan yang khas. Ini menjadi nilai yang berharga sekali.
Tapi, Rano tampaknya akan terbebani dengan sukses Si Doel yang pertama?
Dan, apakah ia akan melakukan kompromi dengan alasan iklan, misalkan?
Saya kira Rano tidak akan melakukan kompromi seperti itu. Yang pasti saya menilai Rano akan sedikit terbebani secara psikologis. Padahal, ia tak harus seperti itu. Masalahnya, sistem rating menunjukkan pengaruh sangat besar pada industri televisi kita. Dan, kemudian dinilainya, kalau berhasil karena iklannya yang banyak. Dan, saya sangat percaya orang beriklan akan memilih pada program-program yang sangat tepat dengan segmen yang dituju.
Bang Ben dan MusikSekitar 75 album musik yang melibatkan nama Benyamin Sueb. Bukan jumlah sedikit tentunya untuk ukuran biduan di lokal (indonesia) apalagi temanya kebanyakan adalah betawi.
Bakatnya sudah terlihat sejak anak-anak. Sejak usia 6 tahun, Benyamin kerap menyanyi untuk menghibur tamu di setiap hajatan. Bakat seninya tak lepas dari pengaruh sang kakek, Haji Ung (Jiung) yang juga pemain teater rakyat di zaman kolonial Belanda. Sewaktu kecil, bersama ketujuh kakaknya, Benyamin sempat membuat orkes kaleng.
Karir musiknya diawali dengan bergabung bersama grup Naga Mustika. Grup yang berdomisili di sekitar Cengkareng inilah yang kemudian mengantarkan nama Benyamin sebagai salah satu penyanyi terkenal di Indonesia. Selain Benyamin, kelompok musik ini juga merekrut Ida Royani untuk berduet dengan Benyamin. Dalam perkembangannya, duet Benyamin dan Ida Royani menjadi duet penyanyi paling popular pada zamannya di Indonesia. Bahkan lagu-lagu yang mereka bawakan menjadi tenar dan meraih sukses besar. Sampai-sampai Lilis Suryani, penyanyiterkenal saat itu, tersaingi.
Orkes Gambang Kromong Naga Mustika dilandasi dengan konsep musik Gambang Kromong Modern. Unsur-unsur musik modern seperti organ, gitar listrik, dan bass, dipadu dengan alat musik tradisional seperti gambang, gendang, kecrek, gong serta suling bambu. Lagu seperti Si Jampang (1969) sukses di pasaran, dilanjutkan dengan lagu Ondel-Ondel (1971). Lagu-lagu lainnya juga mulai digemari. Tidak hanya oleh masyarakat Betawi tetapi juga Indonesia. Kompor Mleduk, Tukang Garem, Bang Puase, dan Nyai Dasimah adalah sederetan lagunya yang laris di pasaran. Terlebih setelah Bang Ben berduet dengan Bing Slamet lewat lagu Nonton Bioskop dan Tukang Sayur, nama Benyamin menjadi jaminan kesuksesan lagu yang akan ia bawakan.
Setelah Ida Royani hijrah ke Malaysia tahun 1972, Babe Ben mencari pasangan duetnya. Ia menggaet Inneke Kusumawati dan berhasil merilis beberapa album, seperti Djanda Kembang, Semut Djepang, Sekretaris, Penganten Baru dan Palayan Toko. Lewat popularitas di dunia musik itulah,Babe Ben mendapatkan kesempatan untuk main film, yang diawali dengan Banteng Betawi (1971).
Menjelang akhir hayatnya, Babe Benyamin juga masih bersentuhan dengan dunia panggung hiburan. Selain main sinetron (Mat Beken dan Si Doel Anak Sekolahan) dan talk show Benyamin Show, Babe masih merilis album terakhirnya dengan grup Gambang Kromong Al-Hajj bersama Keenan Nasution, dengan lagu andalan Biang Kerok serta Dingin-dingin yang bernuansa Progressive Rock.
Mengenang Encing Benyamin SuebOleh: Ekky Imanjaya
"Gue mau dong rekaman kayak penyanyi beneran" ungkap Benyamin Sueb kepada Harry Sabar, di tahun 1992. Maka, bersama Harry Sabar, Keenan Nasution, Odink Nasution, dan Aditya, jadilah band Al-Haj dengan album Biang Kerok. Inilah band dan album terakhir Benyamin. "Di lagu itu, entah kenapa, Ben menyanyi seperti berdoa, khusuk.Coba saja dengar Ampunan," jelas Harry, sang music director. "Mungkin sudah tahu kalau hidupnya tinggal sebentar," imbuhnya. Memang betul, setelah album itu keluar, Benyamin sakit keras, dan rencana promosi ditunda-dan tak pernah lagi terwujud kecuali beberapa pentas. Di album ini, Benyamin menyanyi dengan "serius". Tetapi, lagi-lagi, seserius apa pun, tetap saja orang-orang yang terlibat tertawa terpingkal-pingkal saat Benyamin rekaman lagu I’m a Teacher dan Kisah Kucing Tua dengan penuh improvisasi. Sementara lagu Dingin Dingin Dimandiin dan Biang Kerok bernuansa cadas. Dan Ampunanmu kental dengan progressive rock, diantaranya nuansa Watcher of the Sky dari Genesis era Peter Gabriel.
Yang menarik, masih menurut Harry, saat Benyamin menonton Earth, Wind, and Fire di Amerika-saat menjenguk anaknya yang kuliah disana-dia langsung komentar:"Nyanyi yang kayak gitu, asyik kali ye?", dan nuansa itu pun hadir di beberapa lagu di album itu, salah satunya dengan sedikit sentuhan Lady Madonna dari The Beatles.
Agaknya semua media sudah memuat profil, prstasi, dan kelegendarisan sang Ikon betawi ini.. Lantas, apa yang tersisa. Ape ye yang tersisa dari budayawan betawi yang wafat 5 September 1995 ini?
Seniman asli Betawi kelahiran Kemayoran, 5 Maret 1939 ini main film dengan judul yang menjual namanya--sedikit sekali film di Indonesia yang menjual nama bintangnya, tercatat diantaranya Benyamin, Bing Slamet,Ateng, dan Bagyo. Judulnya, antara lain Benyamin Biang Kerok (Nawi Ismail, 1972), Benyamin Brengsek (Nawi Ismail, 1973), Benyamin Jatuh Cinta (Syamsul Fuad, 1976), Benyamin Raja Lenong (Syamsul Fuad, 1975), Benyamin Si Abunawas (Fritz Schadt, 1974), Benyamin Spion 025 (Tjut Jalil, 1974), Traktor Benyamin (Lilik Sudjio, 1975), Jimat Benyamin (Bay Isbahi, 1973), dan Benyamin Tukang Ngibul (Nawi Ismail,1975).Dia juga main di film seperti Ratu Amplop (Nawi Ismail, 1974), Cukong Blo'on (Hardy, Chaidir Djafar, 1973),Tarsan Kota (Lilik Sudjio, 1974),Samson Betawi (Nawi Ismail, 1975), Tiga Janggo (Nawi Ismail, 1976)--,Tarsan Pensiunan (Lilik Sudjio, 1976), Zorro Kemayoran (Lilik Sudjoi, 1976). Sementara Intan Berduri (Turino Djunaidi, 1972) membuat dirinya, dan Rima Melati, meraih Piala Citra 1973, selain karena Si Doel Anak Modern yang digarap Sjuman DJaya.
Benyamin juga membuat perusahaan sendiri bernama Jiung Film--diantara produksinya Benyamin Koboi Ngungsi (Nawi Ismail, 1975)--bahkan menyutradarai Musuh Bebuyutan (1974) dan Hippies Lokal (1976).
Tetapi, jangan salah, Encing Ben tidak menjadi bintang utama di setiap filmnya. Seperti layaknya semua orang,ada proses dimana Encing Ben "hanya" menjadi figuran atau paling mentok actor pembantu. Dalam hal ini, paling tidak ada dua nama yang patut disebut, yaitu Bing Slamet dan Sjuman Djaya. Walau sudah merintis karir sebagai "bintang film" lewat film perdananya, Banteng Betawi (Nawi Ismail,1971) yang merupakan lanjutan dari Si Pitung (Nawi Ismail, 1970), tetapi kedua nama besar itulah yang mempertajam kemampuan akting Encing BenDalam "berguru" dengan Bing Slamet, Benyamin tidak saja bekerja sama dalam hal musik-seperti dalam lagu Nonton Bioskop dan Brang Breng Brong. Tapi dalam hal film pun dilakoninya. Terlihat dengan jelas, di film Ambisi (Nya Abbas Acup, 1973) -sebuah "komidi musikal" yang diotaki oleh Bing Slamet-Benyamin menjadi teman sang actor utama, Bing Slamet menjadi penyiar Undur-Undur Broadcasting. Di film ini, sudah terlihat gaya "asal goblek" Encing yang penuh improvisasi dan memancing tawa. Di sini, dia berduet dengan Bing Slamet lewat lagu Tukang Sayur. Tetapi, sebenarnya, setahun sebelumnya, Encing Ben juga diajak ikutan main Bing Slamet Setan Djalanan (Hasmanan, 1972). Karena itulah, saat sahabatnya itu wafat pada 17 Desember 1974, Encing Ben tak dapat menahan tangisnya.Dengan Sjuman Djaya, Encing Ben diajak main Si Doel Anak Betawi (Sjuman Djaya, 1973).
Dirinya menjadi ayah si Doel, yang diperankan oleh Rano Karno kecil. Perannya serius tapi, seperti stereotipe orang Betawi, kocak dan tetap "asal goblek".
Adegan terdasyat film ini adalah saat pertemuan antara abang-adik yang diperankan olehs Benyamin dan Sjuman Djaya sendiri, terlihat ketegangan dan kepiawaian akting keduanya yang mampu mengaduk-aduk emosi penonton. Talenta itu direkam oleh ayah dari Djenar Maesa Ayu dan Aksan Syuman, dan dua tahun kemudian Encing Ben pun main film sekuelnya, Si Doel Anak Modern (Sjuman Djaya, 1975). Kali ini Encing Ben menjadi bintang utamanya, dan meraih Piala Citra!Yang menarik, lebih dari dua puluh tahun kemudian Rano Karno membuat versi sinetronnya. Castingnya nyaris sama: Rano sebagai Si Doel, Benyamin sebagai ayahnya-selain theme songnya dan settingnya yang hanya diubah sedikit saja.
Lagi-lagi Encing Ben menjadi actor pendukung, tapi kehadirannya sungguh bermakna.Sebenarnya ada satu lagi film yang dirinya bukan aktor utama, tetapi sangat dominan bahkan namanya dijadikan subjudul atawa tagline: Benyamin vs Drakula. Film itu adalah Drakula Mantu, karya si Raja Komedi Nyak Abbas Akub tahun 1974). Film bergenre komedi horor itu "memaksa" Encing Ben beradu akting dengan Tan Tjeng Bok, si actor tiga zaman.Begitulah, meski beberapa pernah tidak "menjabat" sebagai actor utama, tetapi kehadirannya mencuri perhatian penonton saat itu.
Tidak selamanya kegiatan Encing Ben ada di dunia seni budaya. Encing Ben selepas dari SMA Taman Madya Jakarta (1958), melanjutkan ke Akademi Bank Jakarta, tapi tidak tamat.
Anak bungsu yang pernah bercita-cita menjadi pilot-tapi dilarang ibunya-itu pernah juga Krusus Lembaga Pembinaan Perusahaan dan Pembinaan Ketatalaksanaan (1960), Latihan Dasar Kemiliteran Kodam V Jaya (1960), Kursus Administrasi Negra (1964). Pernah juga jadi pedagang roti dorong, Kondektur Bus trayek Lapangan Banteng-Pasar Rumput (1959), Bagian Amunisi Peralatan AD (1959-1960), Bagian Musk Kodam V Jaya (1957-1969), dan Kepala Bagian Perusahaan Daerah Kriya Jaya (1960-1969).
Tapi, semua itu tidak membuatnya surut untuk menjadi seorang entertainer sejati di Indonesia. Sebab, baginya: "Kepuasan adalah suatu kemunduran". Sepertinya, Indonesia masih saja kehilangan sosok Encing Benyamin yang wafat 5 September, 9 tahu lalu. Indonesia masih saja mencari sosok budayawan yang menghibur sekaligus mendidik bangsa.Jadi, tepat dong kalau, mengutip salah satu kaosnya: "Wanted: Benyamin Sueb, Biang Kerok!"Sayup-sayup, dari salah satu stasiun swasta, terdengar Encing Ben bernyanyi sendu tapi tetap mengundang tawa di film Tiga Djanggo:
"Djanggo pintar pintar bodo
Djanggo tidak suka baso
Djanggo suka ngangon kebo
Djanggo kalau tidur ngigo"
Sebagian dari tulisan ini dimuat di majalah Matra edisi September 2004
VCD BenyaminBuat fans bang ben, ada info nih. Kalo cari VCD nya bisa coba jalan ke glodok. Di tempat pusat VCD, disana ada beberapa kios yg jual film-film Indonesia lama. Diantaranya film2 benyamin tentu ada, emang gak lengkap tapi cukup banyak judul bisa ditemuin disana. Yang jelas bukan bajakan, tapi separo harga, cuman 8 ribu perak...